Arsip Materi

Radio Dakwah Online

Shalawat-Shalawat Bid’ah

Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi

Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat, akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan, bid’ah, ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagainya.

A. Shalawat Nariyah

Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.”

Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan kaitannya dengan shalawat ini:

1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihannya atau menyembuhkan penyakitnya, walaupun yang diminta itu seorang malaikat yang dekat ataukah nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdo’a, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azza wajalla. Firman Allah:

قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحِْويْلاً

“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan kaum yang berdo’a kepada Al Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)

2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan ikatan (kesulitan), menghilangkan kesusahan, dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:

أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا؟ قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

“Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan)

(Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu)

B. Shalawat Al-Fatih (Pembuka)

Lafadznya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلَقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارُهُ عَظِيْمٌ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.”

Berkata At-Tijani tentang shalawat ini -dan dia pendusta dengan perkataannya-:

“….Kemudian (Nabi shallallahu alaihi wasallam) memerintah aku untuk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya kepadanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku pertama kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan dari Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”

Dan ini merupakan kekafiran yang nyata karena mengganggap perkataan manusia lebih afdhal daripada firman Allah Azza Wajalla. Sungguh merupakan suatu kebodohan apabila seorang yang berakal apalagi dia seorang muslim berkeyakinan seperti perkataan ahli bid’ah yang sangat bodoh ini. (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah 225 dan Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)

Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : { ألم } حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)

C. Shalawat yang disebutkan salah seorang sufi dari Libanon dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat, lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”

Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah Azza wajalla. Maka, bagaimana mungkin kedua sifat Allah ini diberikan kepada salah seorang dari makhluk-Nya padahal Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

D. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)

Lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah.”

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: “Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.

E. Shalawat Al-In’am

Lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ

“Ya Allah berikanlah shalawat, salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarganya, sejumlah kenikmatan Allah dan keutamaan-Nya.”

Berkata An-Nabhani menukil dari Syaikh Ahmad Ash-Shawi:

“Ini adalah shalawat Al-In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu kenikmatan dunia dan akhirat, dan pahalanya tidak terhitung.” (Mahabbatur Rasul 288)

F. Shalawat Badar

Lafadz shalawat ini sebagai berikut:

shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah
shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah
tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah
wa kulli majahid fillah
bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:

1. Penyebutan Nabi dengan habibillah
2. Bertawassul dengan Nabi
3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr

Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.

Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.

Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ

“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)

Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)

Bertawassul dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.

Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki do’a, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya yang akan menjadikan mereka dengan cepat kepada derajat para wali yang shaleh. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yang membacanya kedekatan dari beliau, masuk jannah (surga) ,dan yang lainnya dari sekian propaganda yang tidak bernilai sedikitpun dalam timbangan syariat. Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasul tidak memerintahkan kita dengan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.

Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkannya kepada kita. Apalagi apabila model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya, dengan adanya wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang justru disyari’atkan yang telah Allah jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.

Berapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda. Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah semacam buatan Arifin Ilham daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=160

32 comments to Shalawat-Shalawat Bid’ah

  • gugun

    Nabi Muhammad SAW adalah Nabi akhir zaman dan Rahmatanlil’alamin, dan kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW maka tidak diciptakan langit dan bumi berserta isinya, maka dari itu bershalawatlah kpdnya karena ALLOH dan Para malaikatnya bershalawat, Ahlulbait (keturunan) Nabi muhammad SAW ialah para Habaib maka berbaitlah kepadanya karena kita tidak akan tersesat.

    Sebelumnya, komentar antum hampir kami hapus. Namun kemudian, kami ingin mengingatkan antum sebagai sebuah nashîhah tentang hadîts berikut:

    Rasûlullâh Shallallâhu `alayhi wa sallam bersabda:

    فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dalam neraka.” (HR. Al-Bukhârî, Muslim dan lainnya, diriwayatkan lebih dari seratus shahâbat radhiyallâhu `anhum)

    كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

    “Cukuplah seseorang dianggap berdusta dengan mengatakan segala yang didengarnya.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahîh-nya)

    Simaklah hadîts yang antum sebutkan, yang mana statusnya adalah PALSU:

    ===========

    لَمَّا أَذْنَبَ آدَمُ الذَّنْبَ الَّذِي أَذْنَبَهُ، رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ. فَقَالَ: تَبَارَكَ اسْمُكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي رَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى عَرْشِكَ فَإِذَا فِيْهِ مَكْتُوبٌ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، فَعَلِمْتُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَعْظَمَ عِنْدَكَ قَدْرًا عَمَّنْ جَعَلْتَ اسْمَهُ مَعَ اسْمِكَ. فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ: يَا آدَمُ إِنَّهُ آخِرُ النَّبِيِّيْنَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ وَلَوْ لاَ هُوَ مَا خَلَقْتُكَ(3)

    Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa: “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”

    Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa menerjemahkan takhrij hadits yang disebutkan Al-Kandahlawi. Dia berkata setelah itu: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini PALSU.”

    Cobalah pembaca perhatikan. Hadits ini pada hakekatnya telah diketahui oleh penulisnya sebagai hadits yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, bahkan tidak dikuatkan dengan adanya jalan (sanad) lain. Namun ucapan ini tidak diterjemahkan, sehingga para pembaca kitab ini menyangka bahwa hadits ini termasuk hadits yang bisa diamalkan. Rincian kedudukan hadits ini bisa dilihat dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (1/25) dan kitab At-Tawassul mulai hal. 105, dst. Kedua kitab tersebut karya Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, di mana beliau menghukumi hadits tersebut sebagai hadits PALSU.

    ===========

    Silakan baca lebih lanjut dan lengkap di http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=326 tentang Kitab Fadha`il Al-A’mal dalam Timbangan As-Sunnah.

    Sebagai tambahan, silakan baca tentang Fatwa `Ulamâ’ tentang Penyingkatan Salâm dan Shalawat dan Faedah Shalawat untuk Nabî Shallallâhu `Alayhi wa Sallam & Hukum Menyingkat Tulisan Shalawat di kategori Fatwa `Ulamâ’, in syâ’ Allâh.

    • bukan kah para wali songo mengamal kan semua shalawat tadi…….
      kalau menurut anda (admin) apakah para wali songo itu salah
      tolong di jawab karena saya di tanya oleh teman kuliah saya

      • Amalan wali songo bukanlah patokan kebenaran. Para shahabat Nabi adalah orang yang lebih alim, lebih tinggi kedudukannya, lebih mengetahui secara pasti (karena bertemu langsung Nabi), dan lebih mencintai Nabi, daripada orang-orang yang dianggap wali songo itu, bahkan diantara shahabat itu sudah pasti dijamin surga ketika masih hidup, tapi mereka tidak pernah mengamalkan shalawat tersebut. Jika kita sekedar mengikuti, maka seharusnya kita lebih mengikuti orang yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih dijamin surga daripada mengikuti orang selainnya. Bahkan para ‘wali songo’ itu juga seharusnya lebih mengikuti orang yang kedudukannya lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Sombong sekali dia jika menganggap dirinya lebih tinggi daripada shahabat Nabi, sehingga dia menganggap amalannya itu lebih baik daripada amalan para shahabat! Apakah pantas dia dianggap lebih baik jika tidak mengikuti amalan shahabat dalam bersholawat?
        Yang menjadi dasar seorang muslim beramal adalah jika amalan itu benar-benar ada tuntunannya yang shahih dari Nabi, bukan sekedar mengikuti amalan bapak-bapak kita atau orang yang dianggap wali songo. Amalan bapak-bapak kita dan orang yang dianggap wali songo itu jika tidak ada tuntunannya dari Nabi berarti amalan itu bukanlah sesuatu yang pernah dilakukan oleh Nabi. Apakah mungkin ada suatu amalan yang Allah tidak memberitahui kepada Nabi untuk melakukannya, tapi malah wali songo yang lebih tahu tentang adanya amalan tersebut? Atau apakah mungkin -misalnya syariat amalan itu memang ada- tapi Nabi yang tidak memberitahukan/mencontohkan kepada umatnya, namun malah wali songo yang memberitahukan/mencontohkan kepada umat? Apakah mungkin ada amalan Nabi yang kurang sempurna karena tidak adanya shalawat tersebut dan Nabi tidak pernah melakukannya? Ataukah amalan wali songo malah yang lebih sempurna karena dengan adanya shalawat baru tersebut?
        Jika kita meyakini bahwa kedudukan Nabi lebih tinggi dari pada bapak-bapak kita atau orang yang dianggap wali songo itu, maka kita lebih patut mengikuti amalan Nabi daripada amalan orang yang dianggap wali songo itu, karena Nabi adalah yang lebih mengetahui atau lebih alim dalam hal membuat/mencontohkan suatu amalan, daripada orang yang dianggap wali songo itu. Bapak-bapak kita dan yang dianggap wali songo itu bahkan seharusnya mengikuti tuntunan amalan Nabi, bukan malah membuat amalan sendiri yang tidak pernah diamalkan oleh Nabi, karena mereka bukanlah Nabi dan bukanlah yang berhak membuat syariat suatu amalan.

  • achmad wildan

    smoga anda trmasuk hamba yg di ridhoi Allah krn sy lihat apa yg anda sampekan smata hanya ingin meluruskan kesalahan2 yg ada. sesungguhnya manusia itu memang pembuat kerusakan namun barang siapa dgn kuat berpegangn pada buhul yg kuat yaitu al quran & hadits (hadits soheh) maka insha Allah akan selamat dunia akherat. amin…

  • eka

    Assalamualaikum …

    Mohon izin copy paste

  • akmal

    tulisan di atas bagus, lebih dapat diterima

  • PPT

    kalo nonton TV Bid’ah gak ?

    ada ga dalil untuk nonton TV ??

    • admin

      Bid’ah adalah dalam cakupan hal-hal yg dianggap ibadah atau yang diniatkan sbg ibadah, padahal sebenarnya tidak pernah ada tuntunannya dalam Islam. Contohnya yaitu orang-orang yang bersholawat dengan sholawat yang dibuat-buat, mereka menganggap dan memaksudkan perbuatannya itu adalah ibadah kepada Allah, mengharap pahala Allah. Padahal yang namanya ibadah itu harus ada tuntunannya dari Rasulullah atau shahabat, jika tidak ada tuntunannya maka siapa yang menjamin bahwa perbuatannya itu akan diterima Allah? Atau apakah dia lebih tahu dan lebih alim dibanding Rasulullah atau shahabatnya dalam hal bagaimana tata cara sholawat? yaitu karena dia mengadakan sholawatan yang baru yang tidak pernah diketahui maupun diamalkan oleh Rasulullah dan para shahabat, kemudian dia mengklaim sholawat itu pasti diterima sebagai ibadah. Lantas siapa yg lebih alim?

      Sedangkan orang yg menonton TV tampaknya tidak ada satupun dari mereka yang menganggap kegiatan nonton TV itu sebagai suatu ibadah atau nonton TV dgn niat ibadah kepada Allah, atau menonton TV dengan harapan diberi pahala oleh Allah. Maka itu, masalah menonton TV tidak relevan jika dikaitkan dalam pembahasan bid’ah disini, berbeda bab pembahasannya.

  • Edy S

    SubhannAllah….bagus sekali penjelasan ini…Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Taifik dan HidayahNya kepada Al Fakir…. ijin Share ya…

  • kalau Qunut atau tarawih 20 rakaat itu bid’ah ga? kan Shahabat Umar bin Affan melakukannya?

  • Agus

    bagaimana dg Sholawat yg terdapat dalam sholat? bukankah disetiap menjelang salam… qt bersholawat? mohon Share

    • Mohon dibaca dengan baik artikelnya; Sholawat yang ada ajarannya maka itu berarti ibadah yang benar, tapi sholawat yang tidak ada ajarannya maka itu termasuk bid’ah. Adapun dalam sholat itu ada ajarannya, termasuk ibadah, kita lakukan sesuai yang diajarkan Islam.

  • kalo habis sholat saya suka baca shalawat nabi yang bunyinya allahuma sholialla sahidina muhammad wa alaa alli sahidina muhammad apakah itu termasuk bid’ah

  • arai

    Apakah benar ada tuntunannya mengucapkan shalawat saat berjabat tangan serta saat setelah selesai melakukan sholat (fardhu maupun sunnah)?

  • ruri

    Assalamualaikum
    admin, mohon disambung dengan penjelasan sholawat yang benar dan hadist yg mendukungnya.

  • nurul imam

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Qur’an Surat Al-Ahzâb ayat 56

  • Yolis Hidayatullah

    Terima kasih atas infonya terus berjuang berdakwah walau banyak rintangan.. Mmang jaman sekarang lebih suka ikut wali songo dari pada ajaran Nabi SAW dan sahabat.. Pafahal mana yang lebih baik drnya?

  • Chandra

    Saya percaya insya Alloh wali songo orang / hamba Alloh yang Sholeh…abdul qodir jailani orang sholeh insya Alloh…tapi sya lebih percaya 1000000000000000000% Nabi Muhammad Sholollohu ‘Alaihi Wasallam adalah hamba Alloh yang paling paling paling sholeh bahkan dijamin surga. Jadi kenapa harus mengikuti amalan selain amalan Nabi????

  • tetap murid

    yg agak menarik buat saya adalah statement anda:
    “Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah semacam buatan Arifin Ilham daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Laa haula walaa quwwata illaa billah”.

    Saya penasaran, sholawat yg mana yg dilakukan oleh ust. Arifin Ilham yg bid’ah?
    Agar tdk menjadi fitnah mohon dijelaskan berikut alasan/dalil-nya.

    Syukron,
    Wassallam

    • tetap murid

      apakah anda pernah mengikuti majelis tsb sehingga anda yakin mengkategorikannya bid’ah?

      dan bgmn anda kok bisa menyimpulkan bhw peserta yg ikut mejelis dzikir itu LEBIH MENGUTAMAKAN majelis-majelis dzikir buatan Arifin Ilham daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah? [SU’UDZON?]

      Kan bisa mungkin aja mereka ikut majelis itu setelah sering mengikuti halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam [HUSNUDZON!]

      syukron

      • Yang kelihatan dari praktek yang diliput di TV atau media massa/berita, maka tampak jelas bentuk kegiatan yg mengatasnamakan ibadah itu ternyata tidak pernah kami dapati contohnya ada dilakukan ibadah bentuk seperti itu oleh Rasulullah maupun shahabat dan para ulama islam (sebagaimana bisa dipelajari dari kitab2 tentang cara dakwahnya), adapun yang tidak ada contoh tuntunannya dalam peribadahan adalah kebid’ahan.
        Jika saja benar mereka betul-betul menghadiri halaqah kajian Kitab dan Sunnah dengan baik maka tentu saja mereka akan belajar mana yang sesuai sunnah dan mana yg tidak sesuai sunnah, sehingga akan jadi tahu bahwa majelis dzikir yang mereka pernah ikuti itu adalah bid’ah sehingga mereka tidak akan lagi mengamalkan sesuatu yg tidak ada tuntunannya atas nama ibadah.

  • khoirul

    Bagaimana pendapat anda mengenai dakwahnya walisongo kepada masyarakat awam indonesia dengan media budaya,.melalui pendekatan bukan peperangan seperti pada zaman islam baru lahir,,,kalau penyebaran islam lewat perang dan bukan dengan pendekatan budaya berarti islam itu kejam dong??

    • Penyebaran Islam berdasar teladan dakwah Rasulullah tidak selalu dengan peperangan, bahkan dakwah beliau adalah dengan ilmu dan hikmah, inilah yang utama dan pertama dalam dakwah. Demikian pula penyebaran Islam dengan dakwah ilmu (pengajian/kitab2 buku ulama/ceramah/dll) itu selalu menjadi cara dakwah yang utama dan pertama dilakukan oleh generasi setelah Rasulullah sampai saat ini. Adapun perang/jihad Rasulullah itu dilakukan karena banyak sebab (silakan dibaca dalam siroh beliau) di antaranya karena pengkhianatan musyrikin yang menzholimi muslimin, mempertahankan diri, memerangi musyrikin yang tidak mau tunduk kpd aturan dibawah kepemimpinan Rasulullah/Islam (andaikan mereka mau tunduk niscaya tidak akan diperangi). Jihad pun dilakukan dengan aturan2 syar’i yang sangat menghormati hak azasi manusia misalnya tidak boleh membunuh anak2, wanita, orang2 tua, yang tidak memerangi muslimin, tidak membunuhi hewan ataupun merusak pepohonan, tidak menyiksa, diberikan kesempatan untuk tunduk/menyerahkan diri dibawah pengaturan Islam sebelum diperangi, dan berbagai kelemahlembutan yang diatur Islam dalam jihad. Berbeda dengan orang2 kafir yang memerangi kaum muslimin tanpa ada aturan apapun yang mereka junjung sehingga mereka sangat sadis dan bengis tanpa perikemanusiaan ketika memerangi kaum muslimin, karena orang kafir memang tidaklah tau aturan2 Allah dan tidak menaati aturan2 Allah. Allah dan aturanNya sangatlah hikmah karena Allah menurunkan syariat adalah untuk kemaslahatan manusia, sedangkan orang2 kafir tidak mengetahui ini sehingga mereka tidaklah ada yang menunjuki untuk bisa hikmah dan memberi kemaslahatan. dibalik jihad bahkan terkandung hikmah yang sangat agung sebenarnya, yaitu jihad kepada kaum kafir sesungguhnya upaya menyelamatkan mereka dari siksaan Allah di neraka yang kekal jika mereka tetap kafir, sehingga pilihan yang telah lebih dulu ditawarkan (utk masuk Islam) itu adalah keselamatan bagi mereka daripada harus diperangi dan mati dalam keadaan kafir yang justru kerugian besar bagi mereka. Wallohu a’lam.
      Adapun pendekatan budaya, itu hal yang dibolehkan selama tidak melanggar aturan2 Islam. jika budaya itu melanggar syariat Islam maka tentu saja yang lebih diutamakan adalah syariat Islam, karena taat pada syariat membuahkan keselamatan dunia akhirat, sedangkan taat pada budaya tanpa taat pada syariat tidak membuahkan keselamatan akhirat juga dunia. maka manusia yang berakal sehat dengan belajar ilmu agama secara benar akan tau bagaimana cara berdakwah yang benar sesuai tuntunan syariat, bukan dengan budaya yang menyelisihi Islam. karena bagaimana mungkin menyatakan diri berdakwah kepada Allah tapi ternyata caranya itu melanggar aturan Allah? Rasulullah adalah teladan kita dalam dakwah, bahkan semestinya juga teladan wali songo (jika benar ada wali songo) dalam dakwah mereka. Jika saja boleh tidak meneladani Rasulullah dalam agama, maka buat apa Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kpd umat manusia untuk menjelaskan cara berdakwah dan beribadah kepada-Nya? Jika saja boleh tidak meneladani Rasulullah, maka setiap orang akan seolah-olah lebih alim daripada Rasulullah dalam hal cara berdakwah dan beribadah kepada Allah. Wallohu a’lam.

  • Subhanakallahumma wahdahulasyarikalahu . Jazakallah , artikel yg sangat baik , kita semua adalah saudara muslim , jd jd alangkah indahnya jika kita brsaudara , dan sesungguhnya Allah Ta’ala selalu mengingatkan jika ada iblis dan bala tentaranya baik dr golongan jin maupun manusia yg mencoba menyesatkan manusia dr Al Haq dengan segala tipu dayanya baik yg nyata maupun yg halus , dan amalan2 sholawat yg dibahas disini adalah termasuk tipu daya Iblis yg halus . Semoga kita selalu diberi rahmat untuk mengikuti hidayah yg sudah ada .

  • Reza

    Terima Kasih atas semua jenis sholawat yang telah dipaparkan. Sangat bagus sekali. Insya Allah akan saya amalkan sholawat – sholawat diatas. saya berkeyakinan bahwa Allah sendiri bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. Qur’an Surat Al-Ahzâb ayat 56

  • Daffa Rizqullah

    Mantab gan… ijin copas :v
    Hmm sudah kuduga….

  • Lingga

    Assalamuallaikum wr wb
    Subhanallah.. Saya setuju sekali mengenai tulisan saudara.. Janganlah kita menganggap sesuatu yang baik itu selalu benar. Yang benar itu yg ada tuntunan dr allah dan disampaikan ke nabi muhammad saw dan diajarkan pada kita. Yang benar itu pasti baik, tp yg baik belum tentu benar. Ingat setiap bidah itu akan membawa kesesatan, dan yang sesat itu membawa ke neraka. Naudzubillah.

    Ada yg ingin saya tanyakan juga, apakah penggunaan sayyidina pada sholawat itu sesuai dengan tuntunan(hadits)? Karna hadits yg saya dengar blm ada yg mengajarkan sholawat dengan adanya lafal sayyidina. Tapi masyarakat menggunakannya, saya khawatir saya yg belum mendengar haditsnya..

    Sudi kiranya pemilik web ini mengirimkan balasan jawaban melalui email saya.

    Jaza katsiron

  • Ahahahaa.. makin sini makin pusing saya pak..

    Tapi pernah ngga sih bapak masuk ke pila pikir orang orang yang menurut bapak bidah? Pernah ngga sih bapak berada di tengah tengah mereka dalam kurun waktu yang lama? Bukan kah setiap ada pertentangan antara kedua belah pihak setiap pihak hanya mengedepankan pendapatnya dan mereka sendiri ngga tau apa isi didalamnya menurut pihak lain? Pernahkah bapak pelajari mereka langsung dari dalam? Duduk tengan tanpa mencoba mengganggu kegiatan mereka? Pernahkah bapak bertanya langsung pada petinggi mereka tentang semua ke bid’ahan diatas? Banyak kan tuh majelis.. tanya aja ke petingginya pak.. saya makin sini makin bingung sama islam.. saya masuk ke 3 kalangan masyarakat di kurun waktu berbeda.. bahkan saya belajar semua madzhab.. tolong bantuannya

    • Agar kita tidak bingung maka sangat mudah prinsipnya, karena Islam itu memang mudah. Kita berislam karena ingin keridhoan Allah, agar selamat dunia akhirat. Maka kita tinggal mengikuti saja siapa yang jelas-jelas pasti paling diridhoi Allah, yaitu Rasulullah, atau mengikuti orang-orang yang memang murni mengikuti plek tuntunan Rasulullah, tidak perlu dipusingkan mazhabnya apa yang penting apakah sesuai atau tidak dengan yang dilakukan Rasulullah.. Kita mengikuti beliau dengan plek saklek sama persis itu lebih menjamin harapan kita diridhoi Allah, daripada menjalankan sesuatu yang tidak pernah ada tuntunannya dari beliau atau sekedar apa yang dilakukan orang-orang tua atau kiai-kiai yang belum jelas sesuai tuntunan Rasulullah. Kalau semua mengaku mengikuti tuntunan Rasulullah maka kita lihat buktinya apakah benar-benar mengikuti Rasulullah. Contohnya dalam hal mencintai Rasulullah, apakah Rasulullah dan shahabatnya mengajarkan cara mencintai Rasulullah dengan suatu perayaan atau membuat-buat shalawat baru? Lantas siapakah yang benar-benar mengikuti tuntunan Rasulullah, apakah orang yang bershalawat dengan shalawat yang sama persis diajarkan Rasulullah ataukah orang-orang yang bershalawat dengan shalawat yang tidak pernah diajarkan Rasulullah dan shahabatnya?

  • domos

    Barakallahufik, semoga Allah memberikan kebaikan melalui tulisan anda ini.

Leave a Reply to Edy S Cancel reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>