Arsip Materi

Radio Dakwah Online

Selamatkanlah Putri-Putri Kalian..! (bag.II)

Oleh: Syaikh Salim Al ‘Ajmiy hafizhohullaah

Dan salah satu musibah yang merisaukan, sumber kebinasaan yang menghancurkan, yang membuat hati ini meleleh karena sedih dan pedih: perbuatan sebagian orang yang memasukkan “satelite” ke dalam rumahnya. Secara sadar atau tidak sadar, ia telah mengajak keluarganya kepada keburukan, penyimpangan, mengenal hal-hal yang menyebabkan kecurigaan, menghidupkan perbuatan-perbuatan rendah, dan membunuh perilaku-perilaku luhur.

Engkau dapatkan di dalam rumah itu seorang gadis yang belum menikah, atau mungkin yang sudah telat menikah, atau seorang gadis belia yang masih belum tahu apa-apa soal dunia, lalu orang tadi menanamkan alat ini di rumahnya, maka “satelite” ini pun menjadikan naluri itu menyala-nyala, membuat perasaan itu berkobar-kobar, dan memudahkan siapapun untuk terjerembab dalam kesalahan. Akibat tayangan-tayangan yang membangkitkan syahwat dan film-film yang menggoda hasrat. Kalau gadis itu tidak menemukan jalan untuk memenuhi hasratnya secara halal, maka ia akan berusaha mencari hal-hal yang haram, yang diajarkan oleh “satelite” ini tentang bagaimana mendapatkannya dengan cara yang mudah.

Dan bisa jadi, perempuan ini adalah seorang istri yang tidak mendapatkan perhatian dari suaminya. Sedang suaminya itu melalaikannya dengan sering berada di tempat-tempat hiburan atau kantor. Atau mungkin sedang bergaul dengan para pelacur dan perempuan rendahan. Maka sang istripun duduk bergelut dengan dua perkara: antara sebuah “satelite” yang menggelorakan perasaannya dengan menayangkan postur indah laki-laki, dan seorang suami hidung belang yang lalai dan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Maka ia pun tidak menemukan jalan lain selain dengan menjatuhkan diri dalam kesalahan.

Di sini kami tidak sedang mempermudah kaum wanita untuk melakukan penyimpangan dan kami tidak sedang membela mereka untuk itu. Akan tetapi kami menceritakan kenyataan yang ada, dengan harapan semoga hal itu dicermati oleh para lelaki yang khawatir kalau kehormatan mereka akan terkotori.

Maka berapa banyak orang yang memasukkan “satelite” ke rumah, lalu itu menyebabkan perilaku putra putri mereka berubah. Mulailah putri-putri mereka sering menenteng handphone, membantah orang tua mereka, bersikap kelaki-lakian terhadap saudara atau suami mereka. Apakah orang yang memasukkan “satelite” ini tidak melihat perubahan itu?

“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).”

Ada sekian orang yang menghadirkan “satelite” ini ke rumah mereka dengan tidak menyadari akibat perbuatan tersebut, maka mereka kemudian menuai kerendahan dan kehinaan, kecelakaan dan kehancuran. Mereka telah membangkitkan naluri dan menggelorakan hati putri-putri mereka, hingga putri-putri mereka itu pun terperosok dalam kesalahan. Coreng morenglah wajah yang tadinya putih, dan tertunduk hinalah kepala yang tadinya lurus tegak, lalu merekapun meratapi nasib pahit itu. Maka terdengarlah teriakan menyedihkan yang menjawab mereka:

“”Sudah cukup celaan itu ayah, engkaulah yang tercela
Cukup sudah, kini tak ada lagi gunanya mencela

Merintihlah keiffahanku dan mengaduhlah kesucianku
Mata ini dengan pedihnya terpejam rasa malu

Ayah, dulu mutiara kesucian adalah celak mataku
Kini dengan air mata terhapus sudah celak itu

Aku adalah seorang perawan, wahai ayahanda!
Yang nampak kotor di mata mereka yang mulia

Panah kehinaan tertancap dalam keiffahanku
Namun, apa yang engkau tahu tentang panah itu?

Yah, siapakah orang yang bisa menerima kenyataanku
Sedang di rahim ini menggeliat hasil perbuatan haram itu

Yah, siapakah yang akan menerimaku sebagai gadisnya
Sedang di mata orang aku sudah sedemikian tercela

Luka badan akan sembuh lama-lama
Namun luka kehormatan tidak ada sembuhnya

Ayah, inilah keiffahanku, maka jangan cela aku
Ia terkotori yang haram karena perbuatanmu

Kau tanam di rumah kita piringan kefasikan
Buahnya, wahai ayah, racun dan kematian

Kekufuran dan penyimpangan mengobarkan api
Yang ikut menyalakan gejolak di mata naluri kami

Kami tonton kisah kasih asmara
Kami pun penasaran, apakah itu cinta?

Bermacam gaya sensual mereka kuasai
Nafsu di hati orang yang menyaksikannya pun menjadi-jadi

Seakan telah engkau sediakan seorang pelacur
Yang menggoda kami ketika orang pergi tidur

Kalau saja batu itu punya hati, ayah
Tentu ia akan terangsang, apalagi manusia, yah

Engkau menghardikku atas terlepasnya kesucianku
Padahal kaulah yang mestinya dihardik, kalau kau tahu

Ayah, telah kau hancurkan aku dan kini kau menangisi
Reruntuhan puing sambil berkata: mengapa ini bisa terjadi?

Ayah, darah kesucianku inilah buah yang kau petik
Maka siapakah di antara kita yang seharusnya dihardik?”

Maka adakah orang yang tersadar sebelum musibah itu terjadi, dan sebelum kecelakaan itu menimpa? Mengapakah kita tidak mengambil pelajaran dari orang lain. Apakah kita menunggu untuk dijadikan pelajaran oleh orang lain? Keluarkanlah piringan-piringan yang disodorkan oleh bangsa Barat busuk itu, yang lalu disimpan oleh rumah-rumah kalian. Apakah kalian menunggu sampai putri kalian keluar dengan teman laki-lakinya meskipun kalian tidak suka? Apakah kalian ingin ia membawa teman laki-lakinya itu ke rumah? Inilah yang diajarkan oleh “satelite” itu, maka sadarlah..!

Sekalipun musibah yang ditimbulkan oleh “satelite” ini begitu besar, namun ia mulai nampak remeh di depan fitnah internet!

Ini membuktikan kebenaran hadis Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam: “Akan datang fitnah-fitnah yang sebagiannya membuat sebagian yang lain menjadi nampak kecil”. Maksudnya, setiapkali datang suatu fitnah, maka fitnah yang sesudahnya membuatnya nampak remeh, dan kelihatan kecil padahal tidak kecil. Tapi karena begitu besarnya fitnah yang datang kemudian itu.

Apakah kalian tahu, apa internet itu?

Ia adalah alat yang menghubungkanmu dengan dunia, dari utara sampai selatan, dari timur ke barat. Maka kamu bisa membaca apa saja yang kau mau. Kamu bisa masuk ke saluran apa saja yang kau suka. Di dalamnya ada pemandangan dan perkataan apa saja tanpa batas. Internet ini sudah sedemikian banyak menghancurkan pemudi-pemudi. Maka berubahlah tingkah laku mereka. Mulailah mereka menjalin pertemanan dengan pemuda-pemuda melalui chat. Dan mulailah terjalin hubungan yang maksud di belakangnya tidak lain adalah perbuatan keji dan merusak kehormatan.

Maka wahai orang-orang yang memiliki kecemburuan, bagaimana kalian bisa mengizinkan putri-putri kalian menceburkan diri dalam lautan internet? Di manakah sikap melindungi kalian? Di manakah kecemburuan kalian? Di manakah kesatriaan kalian? Tidak cukupkah kerusakan yang ada di jalan-jalan sekeliling, sehinga kalian menyodorkan untuk putri kalian kerusakan seluruh dunia (yang ada di internet -pent)?

Dan yang mengherankan juga adalah orang yang mengizinkan perempuan-perempuannya masuk ke kafe-kafe internet dengan alasan membuat kajian sekolah. Bagaimana engkau mengizinkan wanita-wanita-muhrim-mu untuk berikhtilat dengan pemuda-pemuda kafe yang sebagian besarnya datang tidak lain untuk berbuat kerusakan dan berselancar di situs-situs kehinaan??

Dan salah satu hal yang sudah umum dan jamak, yang merobohkan prinsip dan nilai, yang orang tak lagi bisa berkata apa-apa tentangnya dan menciut sudah semua ungkapan di hadapannya: mengizinkan anak-anak perempuan untuk berikhtilat di sekolah ataupun di tempat kerja!

Dan masalah ini, apa yang harus kita katakan tentangnya dan apa yang seharusnya tidak kita katakan? Dan bagaimana kita memulainya dan di mana kita akan selesai? Semua yang berkaitan dengannya membuat sedih. Dan semua yang berkenaan dengannya membuat pedih.

Malam penuh duka ataukah pagi yang sarat dengan pilu
Sungguh, betapa banyak yang berlaku buruk padamu, wahai negriku
Kuratapi kaumku atau kudiamkan saja rasa sakitku
Sebuah duri di tenggorokanku dan setumpuk gunung dalam hatiku

Sesungguhnya ikhtilat adalah sebab setiap keburukan, dan pengantar menuju hilangnya kehormatan dan lenyapnya kemuliaan. Berapa banyak pemudi yang ketika masuk (sekolah atau tempat kerja -pent) berpakaian sopan, namun kemudian bertabarruj. Yang tadinya cerdas, namun kemudian dihinggapi kebodohan. Tidakkah walinya menanyakan dirinya sendiri apakah sebab itu semua? Ataukah sebenarnya dia melihat namun kemudian memejamkan mata. Karena terpikir olehnya untuk bisa memetik hasil gaji putrinya, atau terlepas dari kewajiban memberinya nafkah, atau alasan lain yaitu “ad dayatsah”.

Demi Allah, bagaimana dengan seorang perempuan yang berikhtilat dengan seorang laki-laki asing, apakah mungkin kalau ia tidak akan cenderung pada laki-laki itu? Seorang pemudi duduk bersama seorang pemuda dalam satu kamar atau satu ruang pertemuan, apakah engkau tidak mengira bahwa sebenarnya engkau menuntutnya untuk melakukan suatu hal yang mustahil?

Sesungguhnya ikhtilat itu mengakibatkan kecenderungan. Dan kecenderungan itu membuahkan hubungan haram yang setelahnya si pemudi itu akan menuai kerendahan dan kehinaan. Bagaimana seorang yang membiarkan perempuannya di tengah-tengah anak muda bisa menilai dirinya sebagai seorang laki-laki? Sedang anak-anak muda itu mencium aroma wangi perempuannya itu, menikmati merdu suaranya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya? Apakah ini bukan “dayaatsah”?

Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Tidak akan masuk sorga seorang laki-laki dayyuuts”. Dan “dayyuuts adalah orang yang tidak punya rasa cemburu sedikitpun terhadap muhrim-muhrimnya.

Mengapakah sebagian orang menjadi sedemikian buta dan tuli?

Awas wahai orang yang lalai! Putrimu duduk bersama para lelaki! Tahukah kamu apa artinya itu? Jangan kalian menuntut sesuatu yang mustahil dari para wanita yang lemah itu. Perempuan itu perasaannya sensitif. Bisa saja ia duduk bersama pemuda yang telah mencuri hatinya, walaupun pemuda itu tidak bermaksud apa-apa. Dan bisa jadi ia adalah seorang perempuan yang tidak mendapatkan perhatian suaminya. Lalu ia menemukan seorang yang bersikap mesra kepadanya dan mempermainkan perasaannya yang sedang kosong, maka iapun tergiring dalam kerendahan.

Maka bertakwalah kepada Allah terhadap qalbunya para perawan
Karena para perawan itu qalbu mereka diliputi kekosongan

Sekali kuda jantan meringkik, ia akan didekati kuda betina. Sekali unta jantan menggeram, ia akan diinginkan oleh unta betina. Dan sekali kambing jantan mengembik, ia akan diminta oleh kambing betina. Dan dulu ada pepatah: “kalau kuda jantan meringkik, kuda betina akan menaruh perhatian padanya”. Lalu bagaimana dengan seorang laki-laki yang duduk bersama seorang perempuan selama satu tahun penuh, di satu meja dan di satu majlis?

Jangan kalian bilang seperti yang dikatakan oleh orang-orang bodoh yang tidak punya sikap kesatriaan: ini adalah berburuk sangka. Sesungguhnya ini adalah kenyataan yang sebenarnya. Maka bilang saja: kami sudah ciut, dan tak lagi mampu menghantam para penganut kebatilan. Dan jangan ia katakan: ini adalah berburuk sangka. Marilah kita mengakui realitas ini.

Salah satu akibat dari ikhtilat ini adalah hubungan pacaran yang sudah sedemikian biasa. Bisa jadi engkau tidak dapat menemukan -kecuali sedikit sekali- laki-laki yang tidak punya pacar. Pacaran sudah begitu menyebar, perselingkuhan sudah sedemikian banyak, perilaku bodoh semakin meningkat khususnya di antara para suami istri. Siapa yang membuka telinganya untuk mendengar keluhan banyak orang, akan mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.

Apakah kalian tahu bahwa sudah biasa untuk sebagian orang, kalau laki-laki itu punya selingkuh? Dan ini tidaklah seberapa dibandingkan musibah orang yang menganggap perempuan yang berselingkuh itu adalah juga hal biasa! Sedangkan Allah menjadikan sifat-sifat wanita beriman itu adalah bahwa mereka
“..wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya..”
Yaitu sebagai selingkuh dan pacar.

Para tuan sekalian,

Sesungguhnya orang-orang munafik hendak melepas penutup dari perempuan-perempuan kalian. Dan para sekularis berusaha siang malam untuk itu. Salah seorang dari mereka menulis: “Hobiku adalah memacari perempuan-perempuan dari keturunan baik-baik”. Dan yang lainnya berkata: “Hendaknya kalian mencari perempuan-perempuan dari keturunan baik-baik, karena mereka tidak mengidap AIDS”.

Dan kalian tahu apa yang mereka maksud dan yang mereka tuju.

Mereka menghendaki kalian wahai orang-orang yang masih tetap berada dalam kebaikan! Mereka ingin merendahkan kepala-kepala kalian yang tegak tinggi itu. Sungguh, betapa bodohnya orang yang menuruti mereka.
Jangan kalian bilang bahwa aku terlalu berlebih-lebihan. Sudah berapa banyak bayi-bayi temuan yang dibuang ke trotoar-trotoar jalan, tong-tong sampah atau pintu-pintu masjid. Sebagiannya bahkan ada yang dibunuh tanpa dosa apa-apa. Apakah ia hasil dari hubungan halal ataukah haram?
Saudara-saudaraku, sesungguhnya kita sedang berada di masa krisis akhlak yang sudah mencapai titik paling nadir!

Maka apakah kita sedang menunggu hari di mana seorang laki-laki berusaha mencari istri yang terjaga iffahnya namun tidak ia temukan? Sebagian wanita sudah kehilangan rasa malu akibat kelemahan mereka dan tidak adanya orang yang mengawasi. Sebagian mereka ketika sampai di tempat studi yang tidak jelas, menanggalkan hijab syar’iy yang mereka kenakan sebagai penutup kemudian bertabarruj seperti wanita-wanita rendahan. Apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Lemahnya pendidikan dan minimnya pengawasan.

Bocah-bocah perempuan di sekolah menenteng-nenteng handphone! Untuk apa? Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban.
Kita harus mengkoreksi diri dalam mendidik putri-putri kita. Karena sesungguhnya pendidikan itu adalah batu dasar pertama sebuah perilaku yang baik.

“Kalau luka yang sudah dibalut menjadi rusak
Jelas sudah kalau si tabib menyepelekan”

Periksalah buku-buku putri kalian dan perhatikan isi tas sekolah mereka. Bukan untuk mencurigai. Akan tetapi untuk sungguh-sungguh menjaga benteng ini jangan sampai ia dipanjat orang. Dan jangan sampai kehormatan ini direndahkan orang. Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang, dengan tidak mempedulikan orang-orang yang ia tanggung nafkahnya”.

“Kalaulah seorang itu terjaga kehormatannya

Maka pakaian apapun yang ia kenakan, indah rupanya

Dan kalau kau tak pernah menganjurkan dirimu berbuat kebaikan

Maka tidak ada jalan bagimu untuk mendapatkan baiknya pujian”

Baarokallaahu lii wa lakum fil qur`aanil ‘azhiim…

(Bersambung insya Allah)

Diterjemahkan oleh tim redaksi akhwat.web.id dari tautan: http://www.salemalajmi.com/main/play.php?catsmktba=138

8 comments to Selamatkanlah Putri-Putri Kalian..! (bag.II)

  • Anisah

    Bismillah..smoga Allah merahmati kita smua..
    Subhanalloh..ayo para pelindung kaum wanita..jagalah muhrim2 kln supaya tak terjerumus dlm api nar

  • Ummu Abdillah

    Tulisan ini mengingatkan kita para ummahat utk lebih waspada dalam mendidik anak-anak kita agar terjaga dari segala fitnah terutama yg ada di sekeliling kita berupa kecanggihan teknologi. Semoga Allah menjaga dan melindungi anak2 kita semua. Amiin. Ana ijin share ya..Jazakumullah khairan.

  • haryuni

    Jazakumullah khairan katsiran.
    menjadikan kami lebih kuat menjaga diri kami dan kelurga kami dari bahaya internet. dan semakin mempertimbangkan manfaat dan madharat dari iptek.

  • ummu nida

    syukron…
    artikel diatas membuat saya lebih protektif dalam bertanggung jawab terhadap keluarga, namun kadang saya bingung dengan fasilitas internet yang juga ada sisi manfaatnya, hanya perlu pengawasan dalam penggunaanya, namun itulah kesulitannya……

  • ummuayyash

    subhanalloh,inilah fitnah2 dunia yang sudah terlanjur dianggap remeh.menurut ana bukan cuma internet tapi televisi,lihatlah televisi, disetiap rumah ada,dianggap remeh,bahkan sudah dianggap kebutuhan pokok tapi tidak sadar akan bahayanya.semoga kita dikuatkan untuk menjaga amanat sebagai umahat,amiin

  • ukhty fillah

    Syukran jazilan atas artikelnya…sangat bermanfaat pada ana untuk semua kaum muslimin dan muslimat…apatah lagi hidup di zaman penuh fitnah ini…kdg2..org yang sangat menjaga dirinya dipandang serong…malahan ada yang mengejek dan memandang jelek…ana sedih..kerana saudara yang semuslim turut sama dlm perlakuan spt ini=(
    sebenarnya…ana barusan berhijrah dari kejahilan ana dulunya..=(semoga ALLAH menetapkan hati ana…InsyaALLAH…dan ALLAH lah sebaik2 penolong…

  • aspl

    Sebaiknya yang harus dilakuka untuk keadaan zaman semarang adalah dengan menutupi-nutupi aib pelaku zina dengan tameng agama islam. Seperti yang sering dilakukan oleh ustad-ustad sekarang ini. Wanita harus meyakini seyakin-yakin nya. Bahwa kesalahan dan dosa zina hanya dibebankan pada pria saja.

    • kesalahan dan dosa zina adalah atas kedua pelaku zina (laki dan perempuan juga), maka itu hukum had kepada pelaku zina juga dikenakan atas keduanya. bukan dibebankan hanya kepada laki-laki. adapun sebuah kasus perkosaan murni maka bisa dikatakan demikian bahwa wanita adalah korban dan lelaki adalah pelakunya yg terkena dosa. Wallohu a’lam.

Leave a Reply to Ummu Abdillah Cancel reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>